KABAR 21-BULUKUMBA
-Perjalanan sejauh ribuan kilometer dari Sulawesi menuju Aceh Tamiang bukan sekadar misi kemanusiaan biasa. Bagi kami, ini adalah perjalanan spiritual untuk menyaksikan langsung bagaimana iman bekerja di tengah ujian yang maha dahsyat.,Selasa 06 Januari 2026.
Di Balik Puing dan Lumpur
Sejauh mata memandang, sisa-sisa amukan air masih meninggalkan luka yang menganga. Rumah-rumah warga yang dahulu menjadi tempat bernaung, kini porak-poranda. Ada yang hanyut tersapu arus, ada pula yang tertimbun lumpur pekat.
Kendaraan yang menjadi tumpuan ekonomi hilang tertimbun longsor. Bahkan, duka semakin menyayat saat mendengar kisah keluarga yang terpisah selamanya, tenggelam ditelan banjir.
Kini, mereka harus bertahan di tenda-tenda pengungsian yang pengap. Tidur dengan alas seadanya, dikerumuni nyamuk, dan menyantap makanan yang jauh dari kata cukup. Tak ada lagi dinding rumah yang melindungi, hanya terpal tipis yang membatasi mereka dengan dinginnya malam.
Perjalanan 4 Jam dan “Malu” untuk Menasehati
Setiap kali kami melakukan penyaluran logistik, kami harus menembus pelosok desa yang terisolasi. Tak jarang, perahu kayu menjadi satu-satunya tumpuan harapan, menempuh perjalanan hingga 4 jam membelah arus demi mencapai saudara-saudara kami yang belum tersentuh bantuan.
Di setiap pertemuan, kami mencoba menyelipkan sesi trauma healing. Kami berniat menguatkan hati mereka, membisikkan kata-kata sabar agar mereka tidak patah semangat. Namun, sejujurnya, di dalam hati kami merasa sangat malu.
Bagaimana mungkin kami menasehati mereka tentang kesabaran, sementara mereka adalah personifikasi dari kesabaran itu sendiri? Mereka telah lulus ujian berkali-kali: mulai dari Tsunami yang melegenda, tanah longsor, hingga banjir yang kini seolah menjadi siklus tahunan. Kami, para relawan, justru merasa merekalah guru yang mengajarkan kami apa itu hakikat ridha atas takdir Allah.
Prasangka Baik di Tengah Sesaknya Dada
Satu hal yang membuat dada kami sesak adalah kelapangan hati mereka. Meski status bencana nasional yang diharapkan tak kunjung tiba, tak ada caci maki yang keluar dari lisan mereka. Dengan tenang mereka berucap, “Mungkin pemerintah punya pertimbangan lain demi kemaslahatan yang lebih besar bagi rakyat Aceh.”
Husnuzan (prasangka baik) mereka di tengah himpitan hidup adalah tamparan keras bagi siapa saja yang masih sering mengeluh atas masalah kecil. Begitu mulia hatimu, wahai saudaraku warga Aceh.
Jika Anda melihat warga berdiri di pinggir jalan mengulurkan tangan menanti bantuan, ketahuilah itu bukan karena mereka ingin merendahkan martabat. Itu adalah ikhtiar terakhir bagi mereka untuk sekadar mengganjal perut yang lapar hari itu. Di balik tangan yang terulur, ada harga diri yang tetap mereka jaga dengan penuh keteguhan.
Perpisahan yang Mengharu Biru
Selama hampir sebulan kami membersamai mereka, justru merekalah yang sering mengunjungi posko Wahdah Peduli. Mereka datang untuk bersilaturahmi, berbagi cerita, bahkan menguatkan kami yang jauh meninggalkan keluarga di Sulawesi.
Saat tugas kami berakhir dan harus kembali ke Sulawesi, kami mendengar kabar bahwa warga masih mencari kami di posko. Sebuah ikatan ukhuwah yang telah terpatri kuat melampaui batas geografis.
Terima kasih kepada Bapak Datuk Khairi Ramadhan, Bang Yunus, Bang Fajri, serta seluruh warga di Kampung Babo, Kampung Juar, Kampung Batu Sumbang, Kampung Pematang Durian, Kampung Alur Jambu, Kampung Sekumur, hingga Kampung Melidi di Aceh Timur, dan desa-desa lainnya.
”Bantuanmu tidak akan kami lupakan. Kami sudah membuatmu lelah mengurusi kami, semoga semua bantuan ini kelak menjadi saksi di hadapan Allah dan menjadi pemberat timbangan amal kebaikan saudara-saudaraku semua,” ucap mereka lirih.
Wahai saudaraku di Aceh,
keteguhanmu adalah pengingat bagi kami untuk lebih banyak bersyukur. Kami datang untuk membantu, namun kami pulang dengan membawa bekal iman dan pelajaran kesabaran yang tak ternilai harganya. Sampai jumpa di pelataran ketaatan kepada Allah
Pewarta. Basri






