Bupati Takalar Ingin Kebijakan Pendidikan Berbasis Kondisi Riil, Tidak Hanya Laporan Administratif

News25 Dilihat

TAKALAR, KABAR21- Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye menegaskan tidak ingin kebijakan pendidikan di daerahnya hanya berdasarkan laporan administratif. Ia memilih untuk langsung mendengar, melihat, dan menilai kondisi riil pendidikan dari para kepala sekolah sebagai pelaku utama.

Penegasan tersebut disampaikan saat ia memimpin rapat koordinasi dengan Kepala UPT SD dan SMP negeri serta swasta se-Kabupaten Takalar di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Jalan Jenderal Sudirman, pada Senin malam (19/01/2026).

Dalam kesempatan itu, Bupati Takalar datang mengenakan baju koko putih dan peci hitam, didampingi Kepala Bagian Forkopim Amran Torada serta Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Takalar, Rifany. Para kepala sekolah memenuhi ruangan dengan busana beragam dalam suasana rapat yang serius dan penuh perhatian.

Daeng Manye menjelaskan alasan memilih berinteraksi langsung dengan kepala sekolah ketimbang hanya menerima laporan dari jajaran dinas. “Saya bisa saja nanya ke Bu Rifany, ke Pak Mursalim, ke Pak Aminuddin, atau siapa saja. Tapi berbeda kalau saya lakukan langsung. Saya tahu langsung, saya lihat langsung, saya dengar langsung,” ujarnya.

Menurutnya, komunikasi langsung membuat informasi yang diterima tidak terdistorsi atau terpotong-potong. “Karena mata, kuping, dan pikiran saya berinteraksi langsung dengan para kepala sekolah, baik SD maupun SMP, sehingga saya tidak bisa dibohongi,” katanya dengan tegas.

Pemahaman terhadap kondisi nyata di lapangan menjadi dasar penting dalam menentukan arah kebijakan pendidikan. “Dengan begitu, mau dikemanain, mau diarahkan ke mana, saya paham. Kebijakan yang saya ambil bisa tepat sasaran dan efektif,” ucapnya.

Evaluasi yang dilakukan tidak hanya mengenai kehadiran kepala sekolah, tetapi juga menekankan pada kepemimpinan, pemahaman tugas, hingga kapasitas manajerial. “Banyak aspek yang harus dilihat, tidak hanya kehadiran. Nanti saya akan sampling pemahaman Bapak dan Ibu selama bertugas,” ungkapnya.

Dalam forum tersebut, Bupati Takalar juga memetakan masa jabatan kepala sekolah mulai dari yang telah lama menjabat hingga yang baru dilantik. Hal ini penting untuk membangun kolaborasi lintas generasi. “Yang senior punya pengalaman, yang junior biasanya punya semangat dan melek teknologi. Saya ingin semuanya satu visi,” ujarnya.

Ia menegaskan tidak ingin dunia pendidikan di Takalar berjalan stagnan dan hanya menjalani rutinitas tahunan. “Saya ingin pendidikan Takalar berubah. Ini bukan rutinitas, ini transformasi,” pungkasnya.