Tragedi Appalarang Tamparan Keras untuk Pemkab Bulukumba, Aktivis Desak Audit standar Keselamatan Semua Wisata*

News26 Dilihat

*KABAR :21 BULUKUMBA* – Kematian wisatawan Elmi Febrianti di tebing Appalarang disebut aktivis sebagai tamparan keras bagi wajah pariwisata Bulukumba. Bukan hanya pengelola, Pemkab Bulukumba ikut disorot karena abai mengawasi standar keselamatan di destinasi andalan. Aktivis berharap Pemkab tidak boleh lagi kecolongan dan segera mengaudit total seluruh tempat wisata demi kenyamanan wisatawan lokal maupun luar daerah.

Tragedi jatuhnya Elmi Febrianti dari wisata Appalarang lalu yang jatuh dan tenggelam , menyisakan luka mendalam. Nama Appalarang yang sudah mendunia justru tercoreng karena minim pengaman.

“Kejadian tragedi Appalarang adalah tamparan keras bagi pariwisata yang ada di Bulukumba. Aktivis menilai ini adalah tamparan keras bagi Pemkab Bulukumba dengan destinasi pariwisata yang ada di Bulukumba,” ujar Andi Saiful,rabu 10 Juni 2026.

Menurutnya, Pemda punya kewenangan penuh melalui Dinas Pariwisata untuk menertibkan. Kalau destinasinya saja yang viral tapi tanpa rambu “Dilarang Mendekat” Atau tanpa petugas jaga, maka itu bentuk kelalaian pengawasan.

Aktivis berharap Pemkab Bulukumba tidak boleh lagi kecolongan dalam hal standar keselamatan di seluruh tempat wisata di Bulukumba. Lakukan
Sidak mendadak ke semua destinasi wisata yang ada di bulukumba, Cabut izin sementara untuk wisata yang tidak penuhi standar. Lebih baik tutup sementara daripada ada korban lagi, Wajibkan asuransi pengunjung dan pelatihan SAR dasar bagi petugas wisata, Transparansi PAD dan Pastikan retribusi masuk ke kas daerah dan bukan pungli.

“Dan ini penting diberlakukan demi kenyamanan para wisatawan, baik lokal maupun dari luar daerah. Wisatawan datang cari keindahan, bukan risiko kematian. Kalau Bulukumba mau jadi ‘Bumi Panrita Lopi’ yang mendunia, maka keselamatan harus jadi harga mati,” tegasnya.

Satu nyawa melayang sudah cukup jadi alarm merah. Bulukumba punya potensi wisata luar biasa, tapi tanpa standar keselamatan, potensi itu jadi bumerang. Pemkab harus pilih,mau pariwisata yang viral tapi berbahaya, atau pariwisata yang aman dan berkelanjutan? Publik menunggu aksi nyata, bukan sekadar duka cita.

KABAR:21