Takalar Jadi Contoh Terbaik! Bupati Daeng Manye Ungkap Strategi Kunci Naikkan Indeks SPM Pendidikan

News16 Dilihat

TAKALAR,KABAR21— Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Kabupaten Takalar justru mencetak prestasi gemilang di sektor pendidikan. Indeks Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan melonjak signifikan, menjadikan Takalar sebagai salah satu daerah dengan performa terbaik di Sulawesi Selatan.

Keberhasilan ini menjadi sorotan utama dalam kegiatan On Air Pa’biritta yang digelar Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Sulawesi Selatan, Senin (20/4/2026), dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi BBPMP Sulsel.

Dalam acara bertema “Praktik Baik Strategi Peningkatan SPM Pendidikan” tersebut, Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye hadir sebagai pembicara kunci untuk membagikan resep suksesnya.

Bupati Daeng Manye menegaskan, peningkatan mutu pendidikan tidak bisa dilakukan dengan cara biasa. Ia menerapkan pendekatan tegas berbasis data sebagai fondasi utama perubahan.

“Perubahan harus dimulai dari kepala sekolah. Mereka tidak boleh lagi hanya bergantung pada operator. Kepala sekolah wajib memahami data sekolahnya sendiri dan menjadikannya dasar dalam mengambil keputusan,” tegas Daeng Manye.

Untuk mendorong percepatan, ia bahkan menerapkan metode shock therapy atau terapi kejut. Pola kerja lama ditinggalkan, diganti dengan keberanian membongkar kelemahan secara terbuka lalu memperbaikinya secara sistematis.

“Fokus kita bukan sekadar administrasi, tapi dampak langsung ke siswa. Seluruh kebijakan kini berbasis data Rapor Pendidikan yang terintegrasi dengan perencanaan anggaran,” tambahnya.

Hasilnya luar biasa. Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Takalar, Rifany, memaparkan bahwa indeks SPM pendidikan melonjak drastis dari angka 16,64 pada tahun 2025, kini berada di kisaran 65,01 hingga 81,65 pada 2026. Status Takalar pun berhasil bergeser dari kategori Tuntas Muda menjadi Tuntas Madya.

Berbagai strategi konkret diterapkan, mulai dari instruksi langsung bupati agar kepala sekolah paham data, penguatan komitmen lewat perjanjian kinerja, hingga penanganan serius terhadap Anak Tidak Sekolah (ATS).

Tak hanya itu, kolaborasi lintas sektor juga diperkuat, mulai dari pelibatan Dukcapil, Dinas Sosial, hingga aparat penegak hukum lewat program Polisi dan Jaksa Masuk Sekolah untuk membangun karakter anti-bullying dan anti-korupsi.

“Ini bukan sekadar program, tapi gerakan perubahan. Kita ingin sekolah menjadi ruang refleksi dan perbaikan berkelanjutan,” ujar Bupati.

Meski capaian saat ini sudah membanggakan, Bupati Daeng Manye mengingatkan agar tidak cepat puas. Keberhasilan ini harus menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi lagi ke depannya.